|
SISTEM
|
ELEMENTS
|
GOAL
|
||
|
INPUT
|
PROCESSING
ELEMENTS
|
OUTPUT
|
||
|
Snellen
Test
|
Snellen
card
|
Pemeriksaan snellen
ini dimulai dengan mendudukan klien di kursi. Gantungkam kartu snellen setinggi kedudukan mata klien
dan berjarak 6 meter dari klien. Mata kiri klien ditutupi dengan tangannya
sendiri dan visus mata kanan diperiksa. Catatan disamping kiri menunjuk pada
visus yang diperiksa untuk jarak 6 meter dan yang disamping kanan menunjuk
pada visus yang diperiksa barisan huruf itu. Maka dengan kartu snellen yang tersedia disini,
penentuan visus kasar mudah dilaksanakan.
|
Kacamata miopi
Kacamata hioermetropi
Kacamata presbiopi
|
Dapat membantu meringankan kesulitan melihat pada
manusia
|
Senin, 30 Oktober 2017
tugas softskill kedua
Minggu, 22 Oktober 2017
tugas softskill 2
|
SISTEM
|
ELEMENTS
|
GOAL
|
||
|
INPUT
|
PROCESSING
ELEMENTS
|
OUTPUT
|
||
|
Sistem komputerisasi pada sebuah perusahaan
|
Data keuangan, data barang dengan menggunakan keyboard
|
Proses semua data yang sesuai dengan keinginan
untuk menghasilkan informasi yang dibutuhkan pihak manajemen
|
File, printer
|
Mengurangi tugas yang dilakukan oleh manusia
(operator) dalam melakukan pengolahan data dan dapat menyediakan informasi
yang cepat serta akurat
|
Minggu, 01 Oktober 2017
SISTEM INFORMASI PSIKOLOGI
SISTEM INFORMASI PSIKOLOGI
Definisi Sistem Informasi Psikologi
Menurut Murdik (dalam Hutahaean, 2014) sistem adalah seperangkat elemen yang membentuk kumpulan atau prosedur pengolahan yang mencari suatu tujuan tertentu.
Selain itu, menurut Sidharta (dalam Hutahaean, 2014) sistem adalah himpunan dari bagian yang saling berhubungan yang secara bersama mencapai tujuan yang sama.
Kemudian Davis (dalam Fatta, 2007) berasumsi bahwa informasi adalah data yang telah dolah menjadi sebuah bentuk yang berarti bagi penerimanya dan bermanfaat dalam pengambilan keputusan saat ini atau mendatang.
Sementara itu, Leod (dalam Fatta, 2007) juga mengemukakan pendapat bahwa informasi adalah data yang telah di proses atau data yang memiliki arti.
Menurut Bigot (dalam Puspitawati, 1999) psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang perilaku manusia.
Lalu menurut Basuki (2008) berasumsi bahwa psikologi adalah ilmu pengetahuan tentang jiwa atau ilmu jiwa.
Selanjutnya menurut Faizah dan Effendi (2006) mengatakan bahwa psikologi adalah salah satu pengetahuan yang tergolong dalam “empirical science” yaitu ilmu pengetahuan yang didasarkan pada pengalaman manusia, walaupun pada awal perkembangannya bersumber pada filsafat yang bersifat spekulatif.
Berdasarkan beberapa definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa sistem informasi psikologi adalah seperangkat elemen yang saling berhubungan secara bersama untuk mempelajari perilaku dan jiwa manusia. Selain itu, informasi adalah hasil dari data yang kemudian di olah menjadi sebuah arti yang nantinya dapat berguna untuk menghasilkan suatu gagasan atau ide yang dapat dijelaskan kepada oranglain dan hasil dari informasi tersebut dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi.
DAFTAR PUSTAKA
Basuki, A,M,H. (2008). Psikologi umum. Jakarta: Universitas Gunadarma
Faizah., Effendi,L,M. (2006). Psikologi dakwah. Jakarta: Prenadamedia group
Fatta, H,A. (2007). Analisis dan perancangan sistem informasi untuk keunggulan bersaing perusahaan dan organisasi modern. Yogyakarta: Andi
Hutahaean, J. (2014). Konsep sistem informasi. Yogyakarta: Deepublish
Puspitawati, I. (1999). Psikologi faal. Jakarta: Universitas Gunadarma
Minggu, 09 Juli 2017
resensi film
- Imajinasi anak yang tidak terbatas oleh indera.
Seperti yang diungkapkan oleh Covey (dalam Denta, 2015), Imajinasi adalah
alat manifestasi yang kuat. Imajinasi bertindak sebagai jembatan antara
pikiran individual dan pikiran universal. Jembatan ini membuat kecerdasan
mengalir diantara terbatas dan tidak terbatas, lokal dan non lokal
- Anak yang menderita disleksia, diseleksia berasal
dari bahasa yunani, yaitu "dys" yang berarti "sulit
dalam" dan "lex" (yang berasal dari legein,
yaitu"berbicara"). Menurut Chandra dan Tim (2013), menderita
disleksia berarti menderita kesulitan yang berhubungan dengan kata atau
simbol-simbol tulis
- Anak yang berbakat, bakat menurut Sukardi (dalam
Sunaryo, 2002), bakat merupakan suatu kondisi atau suatu kualitas yang
dimiliki individu, yang memungkinkan individu itu untuk berkembang pada
masa mendatang.
Jumat, 09 Juni 2017
Logo Therapy
Logo therapy, merupakan suatu metode yang dirancang oleh Victor Frankl. Dia lahir di Wina pada tahun 1905. Ia sendiri mempunyai hubungan yang cukup dekat dengan bapak psikologi dunia, yaitu Sigmund Freud. Kemudian ia bertemu dengan Adler dan psikologi individual. Karya terpenting diantara karya-karya yang dibuatnya adalah Logoterapi dan analisis eksistensial pada tahun 1946. Logoterapi berasal dari kata logos yang dalam bahasa Yunani berarti makna dan juga rohani (spirituality) dan terapi berarti penyembuhan atau pengobatan. Secara umum logoterapi dapat digambarkan sebagai corak psikologi yang mengakui adanya dimensi kerohanian pada manusia disamping dimensi ragawi dan kejiwaan, serta beranggapan bahwa makna hidup dan hasrat untuk hidup bermakna merupakan motivasi utama manusia guna meraih tahap kehidupan bermakna.
Dasar dari teorinya adalah "manusia melangkah melewati oedipus dan kompleks inferioritas". Frankl memperhatikan problem manusia kini dalam ketepusatannya pada sentimentalisme yang muncul akibat berkurangnya secara absolut arti hidup, seperti rasa-perasaan hampa yang sering kali dikaitkan dengan suatu sentimentalisme kekosongan batin. Inilah alasan mengapa Frankl bicara tentang kekosongan eksistensial.
Ini berbeda hal nya dengan hewan, manusia tidak memiliki impuls dan insting yang menunjukkan secara otomatis kepadanya apa yang harus diperbuat, dan berbeda dengan manusia masa lampau yang memiliki nilai-nilai serta tradisi tentang apa yang harus mereka perbuat. Maka sekarang ini banyak sekarang manusia yang bingung, atau bahkan tidak tau tentang apa yang harus mereka perbuat, mereka malah berhadapan dengan bahaya besar, mereka melakukan apa yang orang ingin lakukan dan melakukan apa yang dilalukan orang-orang dan menurut Frankl ini adalah Totalitarisme. Untuk itu lah dibuat Logoterapi, yaitu metode yang mengarah pada realisasi nilai-nilai, suatu psikoterapi yang berangkat dari roh , yakni kebutuhan spritual manusia.
Logoterapi berpegang pada pendapat bahwa ketegangan fundamental antara ada (essere) dan harus ada (devere essere) adalah esensi bagi manusia dan nervosi merupakan pelarian dari tanggung jawab. terbukti, 20% dari nervosi disebabkan oleh berkurangnya nilai, yakni kekosongan eksistensial. Dalam Logoterapi alat yang memungkinkan manusia untuk mencari dan memahami situasi tertentu adalah kesadaran, yang secara serentak ada sadar dan ada bertanggung jawab. Logoterapi berusaha psikologisme yang mereduksi segala-galanya kepada mekanisme psikis. Ada reduksi genetis (segalanya berasal dari mekanisme) dan pandetermenisme analitis, yang memberikan tempat kepada yang disebut furor analysandi.
Logoterapi memiliki tiga asas utama yaitu. Makna ada dalam setiap situasi dalam hidup. kebebasan berkehendak dan Manusia memiliki kemampuan dalam mengambil sikap terhadap penderitaan dan peristiwa tragis yang terjadi. ketiga asas ini berkaitan dengan eksistensi manusia yang ditandai pada logoterapi dengan kerohanian (spirituality), kebebasan (freedom), dan tanggung jawab.
Referensi:
Lippi, A. (2001). Salib dan penyembuhan. Yogyakarta: Kanisius.
Nuansa, G. (2008). Gambaran proses pencarian makna hidup pada penderita kanker serviks. Skripsi. Fakultas Psikologi. Universitas Indonesia.
Mengapa Psikoterapi dalam Psikoanalisis menganalisa Psikopatologis berdasarkan Perkembangan Psikoseksual? Ini Alasannya!
Sebelum kita masuk kedalam pembahasan ini, alangkah baiknya kita mengetahui dulu. Apa yang dimaksud dengan Psikoterapi. Menurut Riyanti dan Prabowo (1998) psikoterapi adalah perawatan dan penyembuhan terhadap gangguan dan penyakit jiwa dengan cara yang lebih psikologis daripada fisiologis maupun biologis. Sebenarnya isitilah ini beberapa macam teknik yang kesemuaya itu dimaksudkan untuk membantu individu yang emosinya terganggu sehingga mereka dapat mengembangkan cara yang lebih bermanfaat untuk menghadapi orang lain. Teknik tersebut berupa psikoanalisis, humanistik, perilakuan, gestalt, analisis transaksional, rasional-emotif dan realitas. Pada tulisan ini akan dibahas mengenai psikoterapi dalam teknik psikoanalisis.
Seperti yang kita tahu, psikonanalisis dipelopori oleh Sigmund Freud (1856-1939). Sigmund Freud sendiri memandang psikopatologi sebagai masalah dalam perkembangan, yaitu terganggunya kepribadian individu pada saat melewati tahap-tahap psikoseksual. Bagi Freud, perkembangan kepribadian sebagai sesuatu yang kumulatif. Sehingga, gangguan pada masa awal perkembangan akan menjadi peristiwa traumatik yang berpengaruh sampai individu dewasa.
Paradigma psikoanalisis bisa dikatakan paling populer dalam bidang psikopatologi dan terapi. Sigmund Freud yang dianggap sebagai bapak psikoanalisa membagi jiwa kedalam tiga bagian prinsipil, yaitu: id, ego,dan superego. Id hadir sejak kelahiran manusia yang menjadi bagian dari kepribadian yang membangun semua energi yang menggerakkan jiwa. Idmemiliki dua insting, yaitu Eros danThanatos. Eros adalah kekuatan integratif hidup yang disebut libido atau energi seksual yang bergerak di atas prinsip kesenangan (pleasure principle). Ketika memasuki usia enam bulan, bagian kedua kepribadian tumbuh dalam diri manusia yang disebut ego. Tugas utamanya adalah berhubungan dengan realitas melalui fungsi-fungsi perencanaan dan membuat keputusan. Jadi, ego bergerak di atas prinsip kenyataan (reality principle). Bagian ketiga dari kepribadian adalah superegoyang membawa standar moral masyarakat. Superego berkembang melalui resolusi dari konflik oedipal yang secara umum hal ini ekuivalen dengan apa yang disebut sebagai nurani atau kata hati (conscience). Hal ini membuat Freud beranggapan bahwa Psikopatologis sendiri dapat dianalisis berdasarkan perkembangan psikoseksual seseorang. Karena manusia memiliki ketiga prinsipil yang saling berhubungan. Hanya saja ada manusia yang bisa melewati tahap perkembangan psikoseksual berdasarkan tiga prinsipil tersebut dan ada pula yang tidak.
Psikopatologi menurut psikoanalisis ada beberapa jenis, yaitu :
Histeria
Histeria adalah gangguan fisik, misalnya lumpuh, tuli, buta, dll. Yang menjadi penyebabnya bukanlah faktor jasmaniah, tetapi faktor kejiwaan. Menurut Freud, hysteria adalah transformasi dari konflik-konflik psikis menjadi malfungsi fisik.
Fobia
Fobia adalah ketakutan yang tidak realistis. Freud memandang gangguan ini sebagai dampak dari kecemasan yang dialihkan, bisa jadi berupa kecemasan yang berkaitan dengan impuls seksual maupun kecemasan akibat peristiwa traumatis. Menurut Nevid, Rathus dan Greene (2005), hal yang aneh dalam fobia adalah biasanya melibatkan ketakutan terhadap peristiwa yang biasa dalam hidup, bukan peristiwa yang luar biasa. Orang yang mengalami fobia akan ketakutan dengan hal-hal yang biasa untuk oranglain sudah tidak dipikirkan lagi seperti naik elevator atau naik mobil di jalan raya.
Obsesi-kompulsif
Obsesi adalah ide tertentu yang selalu melekat pada diri seseorang sedangkan kompulsif adalah dorongan (bersifat paksaan dari dalam) untuk melakukan tindakan tertentu, yang sebenarnya tidak perlu, secara berulang-ulang. Menurut Tomb (2000), Penyebab gangguan obsesif-kompulsif tidak dikatehui, tetapi pada beberapa kasus tampak ada keterlibatan neuron serotonin sistem saraf pusat.
Ketergantungan pada alkohol dan obat-obatan
Menurut Freud ketergantungan seseorang pada alkohol maupun obat-obatan dilatar belakangi oleh insting kematian (thanatos) yang ada pada orang yang bersangkutan
Referensi:
Alwisol. (2004). Psikologi kepribadian. Malang: Universitas muhammadyah malang
Nevid, J.S., Rathus, S.A., Greene, B. (2005).Psikologi abnormal: Edisi kelima jilid 1. Jakarta:Erlangga
Tomb, D.A. (2000). Buku saku psikiatri: Edisi keenam. Jakarta: EGC
http://www.psychologymania.net/2010/04/paradigma-dalam-psikopatologi-psikologi.html
Rabu, 03 Mei 2017
Tugas softskill ke 2 (Psikoterapi)
Sigmund Freud memandang psikopatologi sebagai masalah dalam perkembangan, yaitu terganggunya kepribadian individu pada saat melewati tahap-tahap psikoseksual. Bagi Freud, perkembangan kepribadian sebagai sesuatu yang komulatif. Sehingga, gangguan pada masa awal perkembangan akan menjadi peristiwa traumatik yang berpengaruh sampai individu dewasa. Psikopatologi menurut psikoanalisis ada beberapa jenis, yaitu :
1. Histeria
Histeria adalah gangguan fisik, misalnya lumpuh, tuli, buta, dll. Yang menjadi penyebabnya bukanlah faktor jasmaniah, tetapi faktor kejiwaan. Menurut Freud, hysteria adalah transformasi dari konflik-konflik psikis menjadi malfungsi fisik.
2. Fobia
Fobia adalah ketakutan yang tidak realistis. Freud memandang gangguan ini sebagai dampak dari kecemasan yang dialihkan, bisa jadi berupa kecemasan yang berkaitan dengan impuls seksual maupun kecemasan akibat peristiwa traumatis. Menurut Nevid, Rathus dan Greene (2005), hal yang aneh dalam fobia adalah biasanya melibatkan ketakutan terhadap peristiwa yang biasa dalam hidup, bukan peristiwa yang luar biasa. Orang yang mengalami fobia akan ketakutan dengan hal-hal yang biasa untuk oranglain sudah tidak dipikirkan lagi seperti naik elevator atau naik mobil di jalan raya.
3. Obsesi-kompulsif
Obsesi adalah ide tertentu yang selalu melekat pada diri seseorang sedangkan kompulsif adalah dorongan (bersifat paksaan dari dalam) untuk melakukan tindakan tertentu, yang sebenarnya tidak perlu, secara berulang-ulang. Menurut Tomb (2000), Penyebab gangguan obsesif-kompulsif tidak dikatehui, tetapi pada beberapa kasus tampak ada keterlibatan neuron serotonin sistem saraf pusat.
4. Ketergantungan pada alkohol dan obat-obatan
Menurut Freud ketergantungan seseorang pada alkohol maupun obat-obatan dilatar belakangi oleh insting kematian (thanatos) yang ada pada orang yang bersangkutan.
Daftar Pustaka
Alwisol. (2004). Psikologi kepribadian. Malang: Universitas muhammadyah malang
Nevid, J.S., Rathus, S.A., Greene, B. (2005). Psikologi abnormal: Edisi kelima jilid 1. Jakarta:Erlangga
Tomb, D.A. (2000). Buku saku psikiatri: Edisi keenam. Jakarta: EGC


